Berharap Menjadi Ikhwan yang Ia Rindukan
Pembaca yang semoga dirahmati oleh
Allah SWT,
bagimana rasanya ketika kita dirindu oleh seseorang?Apalagi
orang yang kitacintai. Pastilah kita sangat bahagia.
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ
وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا
أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (100)
Artinya:
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya.Merekakekal di dalamnya.Itulah kemenangan yang besar. (9: 100)
Ada
3 kelompok manusia
yang Allah ridho kepada mereka dan mereka ridho kepada
Allah SWT
1. Kaum muhajirin
2. Kaum anshor
3. Orang
yang mengikuti mereka dengan baik
Suasana di majelis pertemuan itu hening sejenak. Semua yang hadir diam membatu. Mereka seperti sedang memikirkan sesuatu. Lebih-lebih lagi Sayyidina Abu Bakar. Itulah pertama kali dia mendengar orang yang sangat dikasihi melafazkan pengakuan sedemikian.
Seulas senyuman yang sedia terukir di bibirnya pun terungkai. Wajahnya yang tenang berubah warna.
“Apakah maksudmu berkata demikian, wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu? ”Sayyidina Abu Bakar bertanya melepaskan gumpalan teka-teki yang mula menyerabut pikiran.
“Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku (ikhwan),” suara Rasulullah bernada rendah.
“Kami juga ikhwanmu, wahai Rasulullah,” kata seorang sahabat yang lain pula.
Rasulullah menggeleng-gelangkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum. Kemudian Baginda bersuara,
“Saudaraku ialah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku sebagai Rasul Allah dan mereka sangat mencintaiku. Malahan kecintaan mereka kepadaku melebihi cinta mereka ke pada anak-anak dan orang tua mereka.”
**
Pada ketika yang lain pula, Rasulullah menceritakan tentang keimanan ‘ikhwan’ Baginda:
“Siapakah yang paling ajaib imannya?” Tanya Rasulullah.
“Malaikat,” jawab sahabat.
“Bagaimana para malaikat tidak beriman kepada Allah sedangkan mereka sentiasa dekat dengan Allah,”jelas Rasulullah.
Para sahabat terdiam seketika.Kemudian mereka berkata lagi, “Para nabi.”
“Bagaimana para nabi tidak beriman, sedangkan wahyu diturunkan kepada mereka.”
“Mungkin kami,” celah seorang sahabat.
“Bagaimana kamu tidak beriman sedangkan aku berada di tengah-tengah kalian,” pintas Rasulullah
menyangkal hujjah sahabatnya itu.
“Kalau begitu, hanya Allah danRasul-Nya saja yang lebih mengetahui,” jawab seorang sahabat lagi, mengakui kelemahan mereka.
“Kalau kamu ingin tahu siapa mereka, mereka ialah umatku yang hidup selepasku. Mereka membaca Al Qur’an dan beriman dengan semua isi nya.Berbahagialah orang yang dapat berjumpa dan beriman denganku. Dan tujuh kali lebih berbahagia orang yang beriman denganku tetapi tidak pernah berjumpa denganku, ” jelas Rasulullah.
“Aku sungguh rindu hendak bertemu dengan mereka, ”ucap Rasulullah lagi setelah seketika membisu. Ada berbaur kesayuan pada ucapannya itu.
Ayat dan hadits ini sangat erat hubungannya.
Dan kita bias menyimpulkan ada 2 kelompok,
yaitu ikhwani,
dan ashabi.
Dan kita bukan
yang termasuk dalam ashabi,
tetapi kita memiliki kesempatan menjadi ikhwani
yang dirindukan Rasulullah
SAW.
Siapa orang yang tidak ingin dirindu oleh Rasullullah, siapapun pasti ingin dirindu olehnya. Bukan kita
yang merindukan Rasulullah tetapi sebaliknya kitalah
yang dirindukan olehnya. Oleh karena itu kita tunjukan bahwa kita cinta dengan Rasulullah,
kita merindukan beliau,
dengan menjadi seorang ikhwani. Contoh:
kalian pernah punya
rasa suka terhadap lawan jenis?
Apa yang kalian lakukan? Modus, bertingkah aneh bin gajelas
demi mendapat perhatian.
Modus nya bermacam macam dari
a sampai z. Ya seperti itu juga kita harus bersikap
modus kepada Rasulullah,
tetapi modus yang berbeda tentunya. Yaitu,
kita senantiasa bershalawat kepadanya,
dan melakukan apa
yang beliau selalu lakukan,
berkata seperti apa
yang beliau katakan dan segala
yang beliau perbuat.
Tetapi apa
yang kita lakukan belumlah seperti
yang disebutkan. Lalu jangan sampai ketika nanti diakhirat,
kita tidak diakui sebagai umat
Muhammad, sudah pasti neraka jaminannya.
Adapun beberapa ciri kaum ashabi,
yaitu
1. Tidak ma’sum
(terhindar dari maksiat)
2. Mereka apabila berbuat keji atau menzalimi diri sendiri,
bermaksiat. Mereka langsung ber-istighfar, langsung bertaubat meminta ampun dan tidak pernah mereka melakukannnya lagi.
Biasanya para sahabat langsung melakukan amalan shaleh,
contohnya bersedekah.
3. Amalan
yang sering dilakukan yaitu
Menebar salam,
ikhlas danjelasBersedekah
Shalat malam ketika orang sedang tidur
Orang-orang
yang berbuat seperti ini
Allah akan memberikan jaminan syurga
Rekomendasi:
Benakkan dalam hati. Azzamkan kita menjadi ikhwani,
saudara yang
dimaksud orang yang memilki keimanan seperti keimanan para sahabat
Karena masih ada peluang kita menjadi kelompok ikhwan. Semua berlomba lomba menjadi ikhwani.
Dan dalam hati kita selalu mengazzamkan
“aku ikhwan
mu ya Rasulullah”
Begitulah nilaian Tuhan. Bukan jarak dan masa yang menjadi ukuran. Bukan bertemu wajah itu syarat untuk membuahkan cinta yang suci. Pengorbanan dan kesungguhan untuk mendambakan diri menjadi kekasih kepada kekasih-Nya itu, diukur pada hati dan terbuktikan dengan kesungguhan beramal dengan sunnahnya.[Naufalard]

Komentar
Posting Komentar